Lintaskontainer.co.id – Ketegangan di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah beberapa kapal tanker berbendera Iran berhasil memasuki Teluk Persia meski Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap ekspor minyak Iran. Menurut data pelacakan kapal, setidaknya tiga kapal tanker Iran telah berhasil melintasi selat tersebut dalam dua minggu terakhir.
AS Klaim Blokade, Iran Tetap Berlayar
Pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini mengklaim telah memperketat pengawasan di Selat Hormuz untuk mencegah ekspor minyak Iran. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kapal-kapal tanker Iran masih dapat melintas dengan relatif aman. Beberapa kapal bahkan menggunakan jalur yang lebih dekat dengan perairan Iran untuk menghindari pengawasan.

BACA JUGA
DKI Catat 6,98 Ton Ikan Sapu-sapu Ditangkap, Simak Penjelasannya
Sumber di industri perkapalan menyebutkan bahwa Iran menggunakan strategi “dark fleet” atau armada bayangan, yaitu kapal-kapal yang sering mematikan transponder AIS (Automatic Identification System) dan berganti nama serta bendera untuk menghindari sanksi.
Selat Hormuz Masih Jadi Jalur Vital
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat sempit ini. Meski AS dan sekutunya meningkatkan kehadiran militer, jalur ini tetap menjadi urat nadi ekonomi Iran untuk mengekspor minyak mentahnya.
Iran sendiri berulang kali menyatakan bahwa setiap upaya memblokade Selat Hormuz akan mendapat respons tegas. “Selat Hormuz adalah jalur kehidupan kami. Siapa pun yang mencoba menutupnya akan menyesal,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
BACA JUGA
Teja Paku Alam Tunda Rekor Nirbobol Usai Persib Tekuk Bali United
Dampak terhadap Harga Minyak Global
Keberhasilan kapal tanker Iran melintas meski ada ancaman blokade turut memengaruhi harga minyak dunia. Harga Brent sempat mengalami fluktuasi, namun stabil kembali setelah pasar melihat bahwa pasokan minyak Iran masih dapat keluar.
Analis energi menyebut bahwa selama Selat Hormuz tidak benar-benar ditutup secara fisik, ekspor minyak Iran kemungkinan besar akan terus berlangsung, meski dengan volume yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi.
Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia. Komunitas internasional terus memantau perkembangan ini karena dampaknya terhadap stabilitas harga energi global. Sumber terpercaya: https://lintaskontainer.co.id/.











