Lintaskontainer.co.id, Jakarta, 10 Januari 2026 – Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati mencapai titik kritis pada awal Januari 2026. Selain itu, gudang sampah seluas 2 hektar penuh, tumpukan mencapai 5 meter, bau menyengat hingga radius 500 meter. Oleh karena itu, pedagang dan pembeli banyak mengeluh gangguan kesehatan dan penurunan omzet.
Selanjutnya, penyebab utama adalah overload TPA Bantargebang yang sudah melebihi kapasitas 2 tahun terakhir. Di sisi lain, truk sampah Pasar Kramat Jati sering tertahan berjam-jam di TPA karena antrean panjang. Sementara itu, volume sampah harian pasar ini mencapai 800 ton, tapi angkut hanya 600 ton karena keterbatasan armada.

Baca Juga
Buruh Demo Lagi Besok di Depan Istana Protes UMP Jakarta dan Jabar
Kemudian, dampak sangat serius. Pertama-tama, pedagang buah dan sayur alami penurunan pembeli 40% karena bau dan lalat.
Setelah itu, limbah cair sampah mencemari saluran air hingga ke Kali Ciliwung. Selanjutnya, warga sekitar laporkan keluhan ISPA dan diare meningkat 30% dalam sebulan terakhir.
Di samping itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tambah 20 truk sampah dan kerja sama sementara dengan TPA Cileungsi Bogor. Misalnya, anggaran Rp15 miliar disiapkan untuk angkut tambahan. Terutama, Pemprov DKI janji percepat pembangunan TPST di Sunter dan Bantargebang 2.0.
Tambahan pula, pedagang minta solusi permanen seperti pengolahan sampah organik di pasar. Namun, Pemkot Tangsel dan Bekasi juga protes TPA mereka overload. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan nasional pengelolaan sampah terpadu.











