Lintaskontainer.co.id, Jakarta, 27 Februari 2026 – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya secara resmi mengonfirmasi bahwa anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 telah dialokasikan sepenuhnya di dalam pos anggaran pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pernyataan ini disampaikan Teddy dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan siang ini.
Alokasi Anggaran MBG 2026
Menurut Seskab Teddy, total anggaran MBG tahun ini mencapai Rp 71 triliun dan telah dimasukkan ke dalam pos DIPA Kemendikbudristek dengan kode program khusus “Peningkatan Gizi dan Kesehatan Peserta Didik”. Rincian alokasi:

Baca Juga
Digitalisasi Sebelum Otomatisasi: Strategi AI Indonesia yang Mulai Diterapkan
- Rp 52,8 triliun untuk penyediaan makanan bergizi harian di 82.000 satuan pendidikan (PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, dan pesantren)
- Rp 9,5 triliun untuk logistik distribusi, cold chain, dan dapur sekolah
- Rp 6,2 triliun untuk monitoring, evaluasi, dan pengawasan gizi
- Rp 2,5 triliun cadangan untuk penyesuaian inflasi pangan dan perluasan cakupan
“Ini adalah komitmen nyata pemerintah untuk menjadikan gizi sebagai bagian integral dari pendidikan. MBG bukan lagi program sampingan, melainkan sudah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan nasional,” ujar Teddy Indra Wijaya.
Alasan Masuk Pos Pendidikan
Teddy menjelaskan alasan utama memasukkan MBG ke pos pendidikan:
- MBG bertujuan meningkatkan konsentrasi belajar, mengurangi angka putus sekolah akibat masalah gizi, dan menaikkan prestasi akademik siswa.
- Program ini langsung bersentuhan dengan peserta didik, guru, dan lingkungan sekolah, sehingga lebih tepat dikelola Kemendikbudristek dibandingkan pos kesehatan atau pangan.
- Penggunaan dana pendidikan memungkinkan pengawasan lebih ketat melalui sistem Dapodik dan platform digital Kemendikbudristek.
Baca Juga
ATM Pecahan Rp 10.000 Terdekat: Cara Cepat Temukan Lokasi Sekarang
“Kami ingin MBG tidak hanya soal makan, tapi juga soal mutu pendidikan. Anak yang bergizi baik akan lebih fokus, lebih pintar, dan lebih sehat. Itu investasi jangka panjang,” tambahnya.
Namun, beberapa kalangan masyarakat sipil dan aktivis pendidikan menyayangkan bahwa anggaran MBG yang sangat besar (Rp 71 T) justru menggerus pos anggaran lain di Kemendikbudristek, seperti BOS, beasiswa, dan rehabilitasi sekolah rusak. “Gizi penting, tapi jangan sampai mengorbankan infrastruktur dan akses pendidikan yang lebih luas,” ujar Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Jadwal Pelaksanaan MBG 2026
Menurut Teddy, pelaksanaan MBG akan dimulai secara bertahap:
- 1 Maret – 30 Juni 2026: Pilot di 10.000 satuan pendidikan (PAUD & SD)
- Juli – Desember 2026: Perluasan ke SMP, SMA/SMK, dan pesantren
- Target akhir 2026: 82.000 satuan pendidikan (seluruh Indonesia)
Dengan masuknya MBG ke pos pendidikan, program ini kini resmi menjadi salah satu program prioritas nasional di bidang pendidikan di era pemerintahan baru. Publik kini menanti apakah pelaksanaan akan sesuai janji atau justru memicu polemik baru soal prioritas anggaran pendidikan.
Baca Juga: Mudik Gratis BUMN Pelindo 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Rute, dan Cara Daftarnya











